Memparafrasekan Pikiran yang Matang - Perunggu

 Malam sudah larut, jam menunjukkan setengah dua sementara tubuhku butuh istirahat. Dinding kamar sudah mulai berjamur seakan ikut merefleksikan kepenatanku. Isi kepalaku pun terasa sesak tak ubahnya seperti TransJakarta di subuh kemarin—penuh dan melelahkan.

Aku memutuskan mulai hari ini untuk berhenti memperhatikan segala polahmu. Tak masalah jika akhirnya aku melewatkan semua tentangmu karena ternyata apa pun yang terjadi padamu tak pernah memberi dampak penting bagiku. Aku sadar aku tak perlu mengenalmu lebih jauh atau bahkan membaca apa yang kau tuliskan. Biarlah semua tetap begitu karena ada banyak hal lain yang jauh lebih membutuhkan perhatianku.

Aku ingat kau pernah menyita begitu banyak waktuku tanpa sekalipun mengembalikannya. Hidupmu biarlah jadi urusanmu tak lagi menjadi beban bagiku. Kini perhatianku kualihkan kepada hal-hal yang benar-benar berarti.

Hari ini terasa biasa saja. Tidak ada yang terlalu seru dan tidak ada gangguan berarti. Justru aku; 

"Makin nyaman jauh dari drama. Aku tak perlu kenal dirimu"

Aku pun menyadari ketenangan sejati ada pada lautan yang tenang pada pikiran yang matang dan pada umpatan-umpatan yang kupendam rapat-rapat. Semua yang kutanam suatu saat akan kutuai. Begitu juga luka kecewa dan kesabaran yang perlahan membawaku pada pemahaman bahwa hidup akan lebih tenang tanpa dirimu.

Komentar