Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Memparafrasekan Kekal - Nadin Amizah

Di antara manusia yang berjalan beriringan dengan pasangannya masing-masing, aku melangkah di jalan yang mengarah ke utara, berdampingan dengan tujuan-tujuan yang tak selalu bernama. Semua arah itu, pada akhirnya, bermuara pada satu titik: kamu. Padamu, segala perjumpaan menemukan ujungnya. Padamu, akhir tidak terasa seperti kehilangan, melainkan kerampungan—sebuah garis selesai yang tak menakutkan, karena di sanalah kita belajar mengikhlaskan usai. Kita berhenti bukan untuk lenyap, tetapi untuk menyambut bentuk lain dari keberlanjutan. Kamu hadir seperti tawa yang tak pernah benar-benar selesai. Ia berulang, bergema, kadang samar, kadang lantang, namun selalu kembali. Tawa itu hidup di sela-sela ingatan, mengendap di dada, dan terus memanggil untuk dikenang. Dalam kekalmu, aku menyaksikan bagaimana yang pernah hancur kau kumpulkan kembali, perlahan, tanpa tergesa. Bagian-bagian diriku yang dulu rapuh, kau rangkai ulang dengan sabar. Dan semuanya kembali kepadaku—bukan sebagai luka, me...

Memparafrasekan Kembang Gula - Skastra

 Aku pernah percaya bahwa kemanisan adalah tanda kejujuran. Bahwa kata-kata lembut yang keluar dari bibirmu adalah janji yang akan menetap. Bibirmu terasa seperti kembang gula—menyenangkan, memikat, dan membuatku ingin terus mendengarkan. Namun semakin lama aku mencicipinya, semakin aku sadar: manis tak selalu berarti tulus. Lidahmu lentik, pandai membelah makna. Satu kalimat bisa menjelma dua arah, bahkan lebih. Kau tahu bagaimana merangkai kata agar terdengar indah, bagaimana menyusun kalimat agar tak melukai, namun juga tak pernah benar-benar berpihak pada kebenaran. Aku terbuai, bukan karena bodoh, melainkan karena percaya. Suaramu lembut, mengalun seperti harpa yang dimainkan di ruang sunyi. Setiap ucapmu terasa menenangkan, seolah dunia baik-baik saja selama kau masih berbicara. Tapi perlahan aku mengerti, kelembutan suara tak selalu sejalan dengan kejujuran isi. Di balik nada yang merdu, tersimpan kekosongan yang tak pernah kau isi dengan tindakan. Aku lelah mengumpulkan don...