Memparafrasekan Kembang Gula - Skastra
Aku pernah percaya bahwa kemanisan adalah tanda kejujuran.
Bahwa kata-kata lembut yang keluar dari bibirmu adalah janji yang akan menetap. Bibirmu terasa seperti kembang gula—menyenangkan, memikat, dan membuatku ingin terus mendengarkan. Namun semakin lama aku mencicipinya, semakin aku sadar: manis tak selalu berarti tulus.
Lidahmu lentik, pandai membelah makna. Satu kalimat bisa menjelma dua arah, bahkan lebih. Kau tahu bagaimana merangkai kata agar terdengar indah, bagaimana menyusun kalimat agar tak melukai, namun juga tak pernah benar-benar berpihak pada kebenaran. Aku terbuai, bukan karena bodoh, melainkan karena percaya.
Suaramu lembut, mengalun seperti harpa yang dimainkan di ruang sunyi. Setiap ucapmu terasa menenangkan, seolah dunia baik-baik saja selama kau masih berbicara. Tapi perlahan aku mengerti, kelembutan suara tak selalu sejalan dengan kejujuran isi. Di balik nada yang merdu, tersimpan kekosongan yang tak pernah kau isi dengan tindakan.
Aku lelah mengumpulkan dongeng. Kisah-kisah indah yang kau ceritakan selalu berakhir di udara, tak pernah turun ke bumi. Kau pandai menjanjikan hari esok, tapi selalu lupa menepatinya hari ini. Maka simpanlah semua cerita itu—aku tak lagi ingin mendengarnya, apalagi mempercayainya.
"Apalah lagi artinya berkata-kata"
"Bila tak kau buat jadi nyata"
Kata-kata, pada akhirnya, menuntut keberanian untuk dibuktikan. Tanpa itu, ia hanyalah bunyi yang berisik, meski terdengar indah.
Kau juga menyebut sikapmu sebagai tata krama. Senyum sopan, nada rendah, dan gestur yang seolah penuh perhatian. Namun kini aku tahu, semua itu hanyalah topeng yang kau pakai agar tak terlihat rapuh. Kesantunan tanpa kejujuran hanyalah sandiwara yang dimainkan terlalu lama.
Aku belajar bahwa tidak semua kemanisan layak ditelan. Tidak semua kelembutan patut dipercaya. Ada saatnya seseorang harus berhenti mendengarkan dan mulai memperhatikan: siapa yang benar-benar bertindak, dan siapa yang hanya pandai berbicara.
Kini, setiap kali kudengar kata-kata manis dan suara yang lembut, aku tak lagi tergesa untuk percaya. Aku memilih diam, mengamati, dan menunggu bukti. Karena bagiku, kejujuran tak perlu terdengar seperti harpa—ia cukup hadir, nyata.
Komentar
Posting Komentar