Memparafrasekan Tuhan Di Reruntuhan Kota - Dongker
Menari di atas menara Di tengah gelap yang melingkupi jiwanya seorang pemuda berdiri, tenggelam dalam kesendirian yang berat. Ia merasa seperti semesta runtuh, imannya secepat kilat terhempas, dan seperti rumah yang terkubur dalam kebakaran. Tak ada doa yang bisa menolong, tak ada tangis yang bisa menghapus luka. Hanya ada kehampaan yang menyesakkan dada. Setan datang dalam berbagai bentuk—suara bisikan yang meremukkan nurani. Nyalinya yang semakin mengecil, semakin rapuh, dan tak terjangkau oleh cahaya. Di antara amukan rasa bersalah dan kebingungannya ia bertanya pada dirinya sendiri; " apa yang tersisa dalam hidup ini? " Kasih yang dulu penuh kini terasa seperti bayang- ba yang yang sulit untuk digapai. Kenangan yang menyakitkan berputar-putar dalam benaknya, menyiksa namun tak bisa ia lepaskan. Mengingkari nurani, mengingkari diri sendiri—ia seolah kehilangan arah, tak tau apa yang ia cari dalam dunia yang penuh kemunafikan. ketika sedang menatap kota yang membisu ia ...