Memparafrasekan Tuhan Di Reruntuhan Kota - Dongker

 Menari di atas menara 

Di tengah gelap yang melingkupi jiwanya seorang pemuda berdiri, tenggelam dalam kesendirian yang berat. Ia merasa seperti semesta runtuh, imannya secepat kilat terhempas, dan seperti rumah yang terkubur dalam kebakaran. Tak ada doa yang bisa menolong, tak ada tangis yang bisa menghapus luka. Hanya ada kehampaan yang menyesakkan dada. Setan datang dalam berbagai bentuk—suara bisikan yang meremukkan nurani. Nyalinya yang semakin mengecil, semakin rapuh, dan tak terjangkau oleh cahaya.

Di antara amukan rasa bersalah dan kebingungannya ia bertanya pada dirinya sendiri; "apa yang tersisa dalam hidup ini?" Kasih yang dulu penuh kini terasa seperti bayang-bayang yang sulit untuk digapai. Kenangan yang menyakitkan berputar-putar dalam benaknya, menyiksa namun tak bisa ia lepaskan. Mengingkari nurani, mengingkari diri sendiri—ia seolah kehilangan arah, tak tau apa yang ia cari dalam dunia yang penuh kemunafikan.

ketika sedang menatap kota yang membisu ia merasa seperti seorang pengembara yang tersesat dalam labirin waktu. Kota itu adalah cermin dari hatinya—hampa, penuh polusi dan kebencian yang tak pernah berhenti menyala. Namun, meskipun dunia seakan menuntutnya untuk menyerah, ia tetap bertahan dengan menggenggam sepotong cinta yang telah pudar, kenangan yang masih menahan tubuhnya untuk tidak jatuh.

Ia mencoba mencari harapan dalam kegelapan, meraba-raba untuk menemukan cahaya yang telah lama hilang.

__________

"Coba genggam cahaya"

"Hampa dan percuma" 

"Angkat tangan tinggi-tinggi"

"Sisakan jari tengahmu"

__________

Jari tengahnya terangkat tinggi, bukan untuk menyatakan kebencian melaikan sebagai tanda pemberontakan yang menjadi simbol bahwa ia masih ada, meski dunia tak mengerti.

Ia menari di atas menara—sebuah menara yaang dibangun dari puing-puing harapan yang hancur. Setiap gerak tubuhnya adalah doa yang tak terucap, sebuah perlawanan terhadap takdir yang tak pernah memberinya ampun. Di sana, di atas menara itu, ia tau meski semuanya tampak sia-sia, ia tetap hidup. Dan didalam hidupnya yang penuh luka itu ia menemukan kekuatan untuk berjalan. Tak pernah mati, meski dunia berusaha untuk mengubahnya.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memparafrasekan Tirani Tua - Black Horses

Memparafrasekan Menua Di Semester - Ubaidilah

Memparafrasekan Kembang Gula - Skastra