Memparafrasekan Tirani Tua - Black Horses

  Hari-hari terasa sesak karena pemerintah sibuk memainkan kuasa tanpa peduli rakyat. Jalan untuk keluar dari masalah selalu ditutup oleh aturan yang hanya menguntungkan mereka sendiri. Wajah-wajah pejabat berdiri di setiap lini, dari pusat sampai daerah, semua seakan sudah dipagari untuk melindungi kepentingan kelompoknya. Kota yang seharusnya luas malah terasa menyempit. Kehidupan kehilangan makna karena rakyat hanya jadi penonton dari drama politik yang penuh tipu daya. Mereka tertawa di kursi empuk dengan gaji besar, sementara rakyat disuruh ikut tertawa dalam kesengsaraan yang mereka ciptakan.

Ingin rasanya lari dari keadaan ini, tapi sistem yang dibangun membuat rakyat seperti mati berdiri. Hari buruk datang silih berganti, janji perbaikan hanya jadi kalimat manis di televisi. Namun rakyat tidak punya pilihan selain bertahan, meski tahu yang berkuasa tidak pernah peduli. Mereka terlalu sibuk menimbun harta, sibuk menjaga jabatan, sibuk mencari aman di balik kebijakan yang mereka buat sendiri.

Tidak ada waktu untuk rakyat menikmati hidup, tidak ada ruang untuk benar-benar merasakan keadilan. Semuanya dihitung murah, semuanya ditekan agar rakyat pasrah. Di tengah getir, rakyat belajar bertahan, belajar menertawakan luka, belajar hidup meski di titik paling rendah.

Namun di balik semua itu ada tekad untuk membenahi diri, ada amarah yang tidak pernah padam. Rakyat akan terus mengutuk kerakusan para penguasa yang tega menggadaikan negeri demi kekayaan pribadi.

"Kan ku benahi segala burukku"
"Dan kukutuk mereka sampai anak cucuku"

Kutukan itu tidak hanya untuk mereka, tapi juga untuk warisan politik busuk yang mereka turunkan sampai ke anak cucu mereka. Karena dosa kekuasaan bukan hanya milik satu generasi, tapi bisa mengalir ke generasi berikutnya jika rakyat terus dibungkam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memparafrasekan Menua Di Semester - Ubaidilah

Memparafrasekan Kembang Gula - Skastra