Memparafrasekan Menua Di Semester - Ubaidilah
Ia melangkah ke kampus membawa ransel penuh tawa, bukan buku. Di taman, suara gitar sumbang bersahut dengan canda ringan, dan waktu berlari diam-diam di antara langkah-langkah yang tak peduli arah. Malam turun, lampu kampus menyala, tapi semangatnya padam. Ia tertawa untuk melupakan, bukan untuk hidup.
Semester berganti seperti angin yang lewat tanpa sapaan.
Skripsi masih jadi nama asing di berkas laptop berdebu, mata kuliah menumpuk seperti hujan yang tak berhenti. Sementara itu;
"Lihat teman sudah pakai toga"
"Sebagian sudah kerja"
"Sebagian lagi punya anak dua"
"ouw mengapa dikau masih begitu saja"
Kadang malam membisik, “Kau tertinggal.”
Namun bisikan itu dikubur oleh tawa, oleh kopi sachet di tangan kanan, oleh alasan yang dibuat-buat agar tak merasa kalah.
Di rumah, ada dua wajah tua menatap kalender yang tak lagi mereka hitung dengan sabar. Mereka percaya anaknya sedang berjuang, padahal anak itu sedang bersembunyi dari dirinya sendiri. Mereka menyiapkan masa depan seperti menyiapkan pintu, tapi sang anak tak kunjung mengetuk.
Kini kampus mulai sepi. Angin menggeser daun-daun tua, dan di bawah lampu taman yang redup, ia mulai mendengar sesuatu yang dulu tak pernah ia dengarkan—suara waktu.
Bukan yang lewat, tapi yang menunggu.
Komentar
Posting Komentar