Memparafrasekan Romantic Phobia - Loris and The Bell'Air
Semua tampak baik-baik saja dari luar. Ia berjalan seperti biasa, menatap orang-orang dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Tapi dalam dirinya, harapan telah lama gugur. Ia tak tahu kapan tepatnya semua mulai berubah. Hanya saja ia menyadari bahwa semua yang dulu ia impikan kini menjauh satu per satu, seperti daun jatuh yang perlahan menghilang tertiup angin.
Hari-hari berlalu dengan sepi yang sama. Lesu dan murung seolah menjadi bagian dalam dirinya. Ia tak lagi menantikan esok hari karena tak ada yang ia harapkan datang dari masa depan. Yang ada hanya pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu: "Masih adakah kesempatan atau hanya sebuah gurauan belaka"
Malam datang tanpa kejutan. Gelap, hening, namun anehnya—selalu teratur. Tak ada yang berubah. Bahkan kesendirian pun terasa seperti rutinitas yang mapan.
Suatu hari ada seseorang mencoba masuk ke dunianya. Seorang teman—atau lebih tepatnya seseorang yang diam-diam menyimpan rasa. Ia mendekat. Tidak dengan cara yang mencolok, tapi dengan ketulusan yang sulit diabaikan. Perhatian-perhatiannya sederhana tapi hangat. Tatapannya membawa sesuatu yang asing namun familiar: kasih.
Dan itulah saat segalanya mulai goyah.
Bukan bahagia, justru ia panik.
Tangannya dingin, pikirannya kacau.
Orang itu merasa terheran-heran melihat tingkahnya yang ketakutan, lalu mulai bertanya pada malam.
"apakah Romantic Phobia masih ada pada dirinya?"
Komentar
Posting Komentar