Memparafrasekan Kekal - Nadin Amizah

Di antara manusia yang berjalan beriringan dengan pasangannya masing-masing, aku melangkah di jalan yang mengarah ke utara, berdampingan dengan tujuan-tujuan yang tak selalu bernama. Semua arah itu, pada akhirnya, bermuara pada satu titik: kamu.


Padamu, segala perjumpaan menemukan ujungnya. Padamu, akhir tidak terasa seperti kehilangan, melainkan kerampungan—sebuah garis selesai yang tak menakutkan, karena di sanalah kita belajar mengikhlaskan usai. Kita berhenti bukan untuk lenyap, tetapi untuk menyambut bentuk lain dari keberlanjutan.


Kamu hadir seperti tawa yang tak pernah benar-benar selesai. Ia berulang, bergema, kadang samar, kadang lantang, namun selalu kembali. Tawa itu hidup di sela-sela ingatan, mengendap di dada, dan terus memanggil untuk dikenang.


Dalam kekalmu, aku menyaksikan bagaimana yang pernah hancur kau kumpulkan kembali, perlahan, tanpa tergesa. Bagian-bagian diriku yang dulu rapuh, kau rangkai ulang dengan sabar. Dan semuanya kembali kepadaku—bukan sebagai luka, melainkan sebagai pelajaran.


"Yang memeluk raga kecilku"

"Yang menyayangi kecilku"

"Yang memeluk jiwa kecilku"

"Dan semua-semua aku"


Di sana, di dalam pelukan itu, ada aku yang utuh. Ada semua yang pernah tercerai, kini kembali menjadi satu. Ada tawa yang tak pernah selesai, terus terulang, dan aku—dengan seluruh diriku—akhirnya merasa pulang.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Memparafrasekan Tirani Tua - Black Horses

Memparafrasekan Menua Di Semester - Ubaidilah

Memparafrasekan Kembang Gula - Skastra